Beranda Redaksi Laporan Utama Sensasi Penasaran Mencoba Barang Baru

Sensasi Penasaran Mencoba Barang Baru

106
0
BERBAGI

Fenomena yang terjadi  dimasyarakat selalu saja ada hal hal yang membuat kita terheran. Mengernyitkan dahi, menelan ludah, membuah bulu kuduk merinding. Seperti halnya kasus mabuk dengan meminum air rebusan bekas pembalut wanita. Mengapa mereka bisa seperti itu? Berikut pandangan pengamat sosial MH Rahmat mengenai perilaku anak anak jalanan ini kepada Selaras.

Dari aktivitas mereka bagaimana pandangan anda?

Saya kira ini sesuatu yang unik terjadi di masyarakat kita. Semacam praktik kanibalisme yang tanpa keberanian. Beda dengan Sumanto yang berani makan mayat orang meninggal, atau kebiasaan orang Bar bar setelah menang perang memakan sebagian tubuh jasad musuh yang kalah. Kanibal itu mestinya seperti ini, berani sebagai pelampiasan emosi atau tujuannya. Kanibalisme ini kelanjutan dari sadisme sebetulnya, termasuk mutilasi setelah mati kemudian dicincang.

Apa sebenaranya yang mereka cari?

Sepertinya lebih kepada sensasi dari rasa penasaran mencoba barang baru, dan murah karena pertimbangan ekonomi saya rasa tidak.  Mereka cenderung coba coba dari informasi apa yang mereka dengar, misalkan dengan tanaman kecubung, remukan obat nyamuk, cairan apa, dll hingga akhirnya adalah hal yang menjijikan. Nah mereka memandangnya bukan itu dari apa tetapi sebagai zat. Tentu ketika mereka mengonsumsi itu semua sudah ada informasi, meski lemah tentang kandungan zat yang bisa memabawa mereka kepada kondisi yang seperti mereka inginkan.

Selayaknya anak, tentu juga terpengaruh dengan sosok idola sebagai teladan mereka dalam beraktivitas termasuk penyelewangan yang mereka (tokoh) itu lakukan. Jadi ada semacam imitasi dan identifikasi. Kalau mengidolakan kan mengidentikan dengan sosok yang ditiru. Entah dalam hal ini siapa. Seolah olah dirinya hilang menjadi sosok yang dia tirukan sama yang dia idolakan tentunya. Bagi sebagian anak anak, kebudayaan yang menyimpang itu menyenangkan

Berarti hanya karena coba coba, atau rasa penasaran dan ketagihan meraka karena terbiasa mabuk?

Menurut saya lebih pada karena coba coba dan didorong karena faktor imitasi dan identifikasi terhadap idola tadi. Meniru dan mengidentikan diri dengan yang diidolakan. Seperti anak kecil jaman dahulu setelah nonton film Batman, selepas pulang dari mushala itu sarungnya dikatkan di leher dengan maksud serasa dirinya itu sosok batman.

Apakah ini termasuk gejala normal?

Orang orang seperti itu sifatnya non etis atau tidak beretika dengan tidak mempertimbangkan baik atau buruk. Apalagi jika kita melihat dari budaya ketimuran yang lebih kental dengan aspek sopan santun. Hal ini bisa dihentikan dengan social control atau pengendalian sosial. Misalkan dengan membully mereka bahwa minum seperti itu adalah hal hina, cemen atau apa yang itu menyinggung harga dirinya. Dengan begitu mereka akan malu dan itu sebagai hal yang menjatuhkan martabat mereka.

Mereka apa bisa disembuhkan?  

Bisa dengan bully itu tadi sehingga perilaku mereka merasa martabatnya dijatuhkan orang lain. Dengan ini diharapkan akan memukul mundur logika yang mereka gunakan. Kalau dinasehati baik baik malah tidak bisa. Misalkan saya kepada orangnya saja tidak mau kok mereka dengan kotorannya mau. (23)

BERBAGI
Artikel sebelumyaApa Yang Kamu Rasakan?
Artikel berikutnyaBadan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah
Selaras Media merupakan media yang menyediakan informasi mengenai kesehatan dan tentang syariat islam. Memberikan fasilitas bagi pelanggannya berupa konsultasi dokter dan konsultasi ustad melalui telepon yang bersifat gratis dan bebas pulsa.