Beranda Redaksi Laporan Utama Menangani Korban Bullying

Menangani Korban Bullying

118
0
BERBAGI

Dikarenakan keterlambatan respon orang sekitar terutama orangtua dan pendidik terhadap kasus bullying tidak jarang hingga berakibat fatal. Untuk itu fahami betul bagaimana sikap anak dalam keseharian. Lantas seperti apa penanganan ketika anak sudah menjadi korban bullying? Berikut pemaparan psikolog dan ahli parenting anak, Oktariana Indrastuti dari Layanan Psikologi Rumah Mentari Semarang kepada Selaras.

Bagaimana penanganan terhadap pelaku dan anak korban bullying?

Kepada pelaku kita harus mengusut dahulu, mengapa ia melakukan hal itu. Apakah bermasalah terhadap pola asuhnya atau mungkin anak ini dalam membaca situasi tidak faham. Maka kita bisa bantu dia untuk melakukan treatment. Kemudian usahakan kita batasi beberapa fasilitas yang bisa memicu anak melakukan tindakan bullying, misalkan konten video pada handphone (HP). Tidak sedikit ditemukan perilaku anak meniru tindakan apa yang dia lihat, terlebih itu hasil pengamatan dari tokoh kesukaannya.

Tindakan ini tidak hanya dilakukan oleh orangtua saja di rumah, namun perlu juga kolaborasi dengan guru di sekolah.  Dalam penanganan kepada korban, pertama adalah segera identifikasi anak bagaimana perlakuan teman temanny terhadap dirinya. Misalnya pada sikapnya ketika di sekolah, apakah dia menarik diri, maka kita harus waspada ini ada apa. Saat dirinya mendapati perlakukan bullying secara verbal, maka kita memberikan proteksi disini ajak guru juga untuk bekerjasama.

Ini juga harus orangtua fahami bagaimana orangtua melakukan problem solving di lingkungan. Jangan sampai nanti karena kita terlalu membantu dan memproteksi anak sehingga anak sendiri tidak tahu bagaimana caranya bersikap di lingkungan.

Bagaimana jika korban sampai depresi?

Kalau sudah sampai kondisi seperti ini berarti sudah klimaks, artinya bullying yang dia terima tidak sekali dua kali, namun sering. Jika ini terjadi maka perlu treatmen khusus dari tenaga professional yakni psikolog bisa juga psikiatri. Artinya kita membantu dia bagaimana dalam kemampuan kognitif seperti pada memahami lingkungan serta bagaimana dia bersikap pada lingkungan. Agar dia bisa lebih yakin ketika berada di lingkungan tidak merasa rendah diri dan takut.

Gambaran penanganannya seperti apa?

Kita proteksi dia terlebih dahulu proteksi terhadap apa yang sudah dia lakukan ketika mendapati kejadian yang tidak diinginkan. Atau dengan metode cerita dengan memfokuskan apa yang harus dilakukan ketika menerima tindakan tersebut.

Apa sampai perlu di brain wash?

Tidak sampai ke arah itu. Kita hanya membantu memperbaiki kondisi psikologisnya. Kita bantu dia untuk bisa menyelesaikan permasalahan emosi negatifnya dia dahulu. Baru setelah itu kita kembalikan di ke lingkungan dengan bimbingan perlahan. Artinya tidak melupakan kejadian, tetapi membantu agar bagaimana dirinya bisa move on terhadap apa yang telah menimpanya. Jadi lebih pada bersahabat dengan situasi dan memperbaiki cara berfikirnya dan perilaku terhadap lingkungan. (23)