Beranda Berbagi Investigasi Ikan Asap Berformalin

Ikan Asap Berformalin

57
0
BERBAGI

Menggeliatnya dunia kuliner beberapa tahun belakangan ini membuat hidangan jenis hasil laut ikut menjadi terkenal. Beberapa diantaranya adalah kepala manyung, kepala kakap, pindang asap, ikan bakar dan lain sebagainya.

Pangsa pasar jenis kuliner ini cukup menjanjikan. Mudah sekali mendapatkannya, mulai dari warung atau pasar tradisonal hingga restoran kelas atas, semua hampir diolah dengan menu dan bahan yang sama.

Dari sisi hargapun sangat bervariasi, mulai dari Rp 3 ribu perpotong untuk ikan asap jenis pindang, Rp 15 ribu hingga 80 ribu rupiah untuk kepala manyung. Serta harga-harga variasi lainnya yang semua mudah dijumpai dan laris manis banyak diburu pembeli.

Ikan Asap, Ternyata?

Kasak-kusuk dari sejumlah informasi dan kabar dari mulut ke mulut, keberadaan ikan asap dan kepala ikan ini banyak disorot. Pasalnya, diduga ada beberapa oknum pembuat maupun penjual ikan asap dan ikan basah yang kurang higienis dan membahayakan kesehatan. Belum lagi kondisi tempat produksi yang yang kumuh dan tak terawat.

Bahkan saat disambangi Selaras, salah satu penjual di Semarang Utara tersebut dengan tanpa  sadar mencuci ikan di air yang begitu kotor. Tak sampai di situ, setelah dibersihkan ikan dimasukkan ke rendaman air kotor. Ketika Selaras mencoba memeriksa kekenyalan ikan. Memang ketika ditekan sebagian ikan kenyal, tapi di tempat jualan lainnya ada sebagian lagi yang sudah tampak menghitam legam keras. Benarkah yang keras itu ada zat-zat kimia tertentu?

“Kepala manyung yang diformalin itu memiliki tekstur daging yang keras, tidak lunak dan warnanya agak mengkilap. Ikan segar lainya yang kulitnya tetap mengkilap dan kenyal, sedangkan matanya sudah redup kehitaman, yang diduga menjadi tanda ikan yang diformalin. Tapi untuk memberi romalin harus dengan sejumlah ikan yang banyak, misalnya satu blong (tempat menyimpan ikan). Kalau kepala manyung yang bersih kan pagi hari diproduksi, siangnya dijual itu masih tetap segar. Tapi kalau sudah lebih dari 24 jam itu sudah pucat,” ungkap Tinah, salah satu pedagang ikan asap dan kepala manyung di Pasar Tambaklorok, Semarang.

Terlepas dari formalin, masih ada lagi ancaman bagi penikmat kuliner ini. Yakni penggunaan tawas terhadap ikan-ikan agar tetap awet dan kenyal. Banyak sekali konsumen yang tidak tahu dan tidak menyadari. Karena tawas sulit dideteksi oleh kalangan awam. Selain itu juga proses pembuatan ikan asap juga banyak menjadi sorotan karena kurang higienis.

Pembuatan

Untuk membuat ikan asap, termasuk juga kepala manyung sebenarnya cukup sederhana. Setelah ikan dicuci bersih lalu dipotong-potong dalam ukuran tertentu. Selanjutnya ikan dipanggang dengan alat pemanggang menggunakan bahan bakar batok kelapa, dan ikan asap pun siap dipasarkan.

Namun demkian, terkadang ada oknum yang agak nakal. Mereka mencampurnya dengan bahan kimia berupa tawas yang harganya relatif murah yang didapatkannya dari toko-toko kimia terdekat. Tak heran bahan kimia yang lebih dikenal sebagai penjernih air itu digandrungi para pengolah ikan asap sebagai pengawet.

Dilansir dari laman Liputan6 di beberapa lokasi pengolahan kadang tidak ada batasan yang jelas, mengenai penggunaan tawas pada bahan baku ikan asap. Dinas Kesehatan setempat memberikan argumentasi yang berbeda seputar penggunaan bahan kimia pada makanan ikan asap. Juga, menyangkut higienitas lokasi pengolahan yang jauh dari memadai, karena setidaknya dapat membuat konsumen gatal-gatal. Lebih parah lagi, ada pedagang nakal yang menjual ikan asap oplosan alias penggunaan tawas diulang ditambah bahan kimia lainnya ke masyarakat.

“Tawas merupakan salah satu bahan kimia dimana kandungan alumunium jika terserap dalam ikan akan tetap tertinggal. Meskipun pengolahannya sudah melalui proses dimasak. Tapi tetap saja meninggalkan resiko buruk bagi kesehatan. Resiko jangka panjang bagi yang mengonsumsinya dapat menyebabkan kerusakan hati,” ungkap Ita Sulistyawati, S.TP., MSc., Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Unika dan peneliti keamanan pangan.

Menurutnya, sebagian pedagang ikan yang nakal membeberkan rahasianya. Ikan yang dibeli dari pengolah ikan asap dicelupkan dalam campuran larutan tawas dan benzoat. Racikan bahan kimia itu sama sekali tidak menggunakan takaran. Ikan itu lalu ditiriskan untuk diperjualbelikan keesokan harinya. Keuntungan yang cukup menjanjikan serta kerugian yang bisa diminimalisir membuat si pedagang betah berbisnis dengan cara itu.

“Tetapi, sebagai pembeli kita juga harus cerdas dan teliti. Ada caranya untuk memilih ikan asap yang higienis. Perhatikan warna ikan yang cerah dan tidak pucat. Tekstur daging ikan tidak kenyal. Rasa sesudah diasap ada aromanya pahit. Jika tidak pahit, ada kemungkinan menggunakan bahan kimia tertentu. Masih beraroma khas ikan, amis. Dan idealnya, ikan asap hanya bertahan sehari disuhu ruangan,”  tandasnya.*I@m