Beranda Redaksi Laporan Utama Guru, Ingat Tahun Pertamamu

Guru, Ingat Tahun Pertamamu

154
0
BERBAGI

Dari sekian kasus bullying, nyaris semua terjadi di lingkungan sekolah. Artinya seorang pendidik memiliki peran strategis untuk mengantarkan anak menjadi pribadi yang baik, bukan penindas atau pem-bully. Bahkan bisa saja pendidik pun berkontribusi menumbuhkan perilaku bullying. Lantas bagaimana laku pendidik agar sekolah menjadi lebih ramah terutama bagi praktek bullying? Berikut diantaranya.

  1. Jadikan pertemuan pertama itu yang utama

Jangan menyepelekan pertemuan pertama. Beberapa guru gagal pada satu tahun pelajaran karena tidak memaksimalkan hari tatap muka pertama dengan siswanya. Mereka menanggap waktu maha penting ini sama dengan hari hari lainnya.

Artinya jika siswa itu bukan murid kita di kelas, mereka hanya melihat kita sekilas. Anak anak itu menilai kita terbatas, hanya sebatas apa yang mereka ketahui dengan bantuan informasi informasi dari murid kita sendiri.

Begitu mereka memasuki tahun pelajaran baru dan mendapati anda sebagai gurunya, mereka akan menunggu. Siapa anda, bagaimana karakter anda, apa yang anda inginkan setahun ke depan.

Jangan sia siakan kesempatan ini. Masukkan kata “Kelas Tanpa Bully”, atau “Anti Bulllying Teman Sekelas” dalam peraturan kelas. Intinya posisikan diri anda sangat benci terhadap perilaku negatif ini. “Karena kelas ini sudah bersama sama sejak …., sudah menjadi kesatuan, memulai bersama dan melakukan banyak aktivitas bersama sama, saya paling anti melihat ada yang menghina, melecehkan, mengucilkan temannya di luar batas bahkan sampai dibawa bawa ke luar sekolah, termasuk media sosial. Ingat, haram bagi saya melakukan hal itu.”

  1. Catat anak anak potensial dibully

Nama anak anak yang pendiam, introvert, mental lemah idealnya kita kantongi sejak sebelum mulai mengajar suatu kelas. Skrining ini bisa dilakukan dengan kita menanyakannya pada guru sebelumnya. Begitu halnya dengan siapa siapa jagoan kelas, yang paling punya pengaruh pada teman teman lain. Beruntunglah anda jika “penguasa”  kelas adalah siswa berprestasi.

  1. Jaga konsistensi

Posisikan diri di pihak anak yang sering jadi korban bully. Ini penting bagi kepercayaan dirinya. Ketika guru memihak nampaknya sah sah saja. Karena jagoan jagoan itu sudah  tidak perlu lagi dilatih mentalnya, sudah bagus. Tinggal diarahkan ke arah yang positif. Tapi bagi anak yang sering jadi korban, mereka perlu di back up oleh orang yang lebih punya kuasa dibanding jagoan kelas. Dan itu adalah guru.

Jaga konsistensi selama satu tahun utuh menjaga ucapan tegas anda di awal sebagai orang paling anti dengan praktik perbullyan. Ini yang paling sulit. Jangan sampai ada situasi yang tanpa anda sadari melanggar janji anda bahkan jika diperlukan buat kesepakatan bersama. Mudah bagi mereka untuk sekedar membuyarkan kepercayaan terhadap anda. Dalam banyak hal, guru berintegritas lebih berarti ketimbang guru jenius. Jangan lupa tahan emosi anda ketika ingin memberikan punishment. (23)