Beranda Majalah Furqon Amal Sholeh Amal Salah Antara Suami Atau Orang Tua

Antara Suami Atau Orang Tua

36
0
BERBAGI

Birrul Walidain adalah wujud darma bakti seorang anak terhadap orang  tuanya. Suatu etika baik yang diajarkan dan ditekankan Islam, dan wajib ditaati setiap muslim karena perintah Allah. “…dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya. ibunya tela hmengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya alam ua tahun…” (QS Lukman 14)

Makin maraknya pencerahan Islam, membuat orang banyak yang mengikuti dan mengaplikasikan ke dalam kehidupannya. Diantaranya adalah bagaimana hablum minannas, bersikap terhadap  orang yang  pernah melahirkan dan membesarkannya dan tawadhu’ terhaap seorang suami.

Namun yang terjadi di lapangan, kadang kita menjumpai beberapa perkara yang kelihatannya baik dan mendatangkan pahala, tapi justru perbuatan yang menyebabkan dirinya terkena dosa, karena kurang fahamnya ilmu akan hal ini. Yaitu tentang batasan antara hak dan kewajiban seorang istri terhadap suami dan orang tuanya.

Misal sebut saja Ida, seorang istri yang ingin selalu berbuat yang baik dengan harapan akan mendatangkan pahala. Pada suatu ketika disuruh ke rumah orang tuanya untuk membantunya karena sedang punya hajat, yakni pembacaan doa dalam rangka haul ayahnya.

Secara otomatis si ibu ini mengadakan masak besar untuk menjamu orang-orang yang akan diundang. Naluri hubungan seorang anak dengan sosok yang penah melahirkannya, menjadikan suatu panggilan untuk melaksanakan birulwalidain, sebuah ladang pahala besar yang menantinya di depan mata.

Ida pun segera pergi ke rumah orang tuanya untuk membantu masak memasak dari pagi hingga malam sampai usai acara haul. Sementara sang suami pun tidak mampu berbuat banyak dan memilih diam, karena baginya itu perrbuatan mulia dan tidak mau jadi dilema. Sedangkan bagi Ida, dua hari merawat orang tua sama sekali tidak mengurangi kesetiaan terhadap suami yang sudah dilayaninya selama puluhan tahun dengan hati yang ihlas tanpa kurang apapun.

Berat, Tapi Harus Bersikap

Manakah yang lebih didahulukan, antara hak orang tua atau suami, tatkala perempuan sudah menikah? Merujuk dari Kitab Syarah Muntaha al-Iradat 3/47, Imam Ahmad bin Hambal menjelaskan, “ Seorang perempuan yang memiliki suami dan ibu yang sedang sakit, ketaatannya kepaa suami lebih wajib atas dirinya daripada mengurusi ibunya, kecuali jika suaminya mengizinkan.”

Kitab al-Inshaf jus 8/362 juga menjelaskan, bahwa seorang istri tidak boleh mentaati kedua orang tuanya untuk berpisah dengan suaminya, tidak pula mengunjunginya dan semisalnya. Bahkan ketaatan suaminya lebih wajib di atas kedua orang tuanya.

Berdasarkan dua pendapat ulama tersebut sudah cukup dan jelas, siapa saja seorang istri hukumnya wajib mendahulukan ketaatan kepada suami daripada ketaatan kedua orang tuanya, meski dalam kondisi sakit sekalipun, kecuali sudah mendapat izin secara terucap dari sang suami.

Sedangkan pada cerita di atas, sang istri sama sekali belum  meinta izin dan suami belum mengucap boleh tidaknya, bahkan karena  masih dilema ia  memilih diam. Mungkin daripada ribut atau dianggap tidak manusiawi karena mau bagaimana pun itu adalah orang yang pernah melahirkan istrinya. Toh ia sudah dilayani selama bertahun-tahun dengan ihlas dari sang istri.

Diperkuat Ulama Kontemporer

Dalam hal ini Syaikh Yusuf Qardhawi menjelaskan dalam fatwanya yang terangkum di Fatawa Mu’asshirah. “Benar, ketaatan terhadap  kedua orang tua bagi seorang perempuan adalah wajib, tapi selama belum menikah. Namun jika sudah menikah, yang ditandai peralihan  tanggungjawab dari sang ayah ke suami pada ijab kabul, maka kewajiban itu gugur dan seorang istri harus lebih mengutamakan taat kepada suami, selama ketaatan itu masih berada di koridor syariat dan tidak melanggar perintah agama.”

Yang pelu diingat! Setelah mengucap “Saya terima nikahnya Ida binti fulan, maka perwalian dari kedua orang tua sudah gugur berpindah kepada suami. Sehingga sang istri memasuki kehidupan baru. Bukan lagi di bawah tanggungan orang tua, melainkan menjadi tanggung jawab suami. Meskipun demikian, kewajiban ini bukan berarti harus memutus tali silaturrahim kepada orang tua atau mendurhakainya. Seorang suami juga dituntut harus mampu menjaga hubungan baik antara istri dan keluarga.”

Barangkali ini bisa menjadi pelajaran sekaligus peringatan bagi istri-istri yang belum  begitu faham  tentang batasan hak dan kewajiban antara dengan suami dan orang tua. Kasus yang dialami Ida ini menjadi sangat penting, jangan sampai niat hati ingin menggapai pahala yang besar dengan berbirulwalidain. Tapi karena kurangnya ilmu menjadikan mereka justru mendapat dosa karena “merampok” hak-hak suami.*I@m